Dakwah sebagai Tindakan Sosial

adminNews4 months ago5 Views

Oleh Arvindo Noviar

JAKARTA, KABAR NKRI.COM – Dalam beberapa dekade terakhir, dakwah mengalami banyak perubahan, baik dari sisi bentuk maupun cara penyampaiannya. Perkembangan teknologi, maraknya media digital, serta tampilnya figur-figur publik keagamaan turut memengaruhi cara pesan agama diterima dan dipahami. Minggu (20-7-2025)

Salah satu bentuk yang menonjol adalah dakwah dalam format perbandingan agama, yang sering dikemas sebagai debat terbuka.

Tokoh seperti Zakir Naik menjadi contoh dari model ini, dengan pendekatan yang menonjolkan kecepatan logika dan kemampuan mengutip teks suci secara sistematis.

Namun jika pendekatan ini dibaca melalui kacamata teori sosial, muncul sejumlah persoalan mendasar yang menyangkut cara agama dimaknai, dikomunikasikan, dan dihadirkan dalam ruang publik.

Secara sosiologis, dakwah bukan sekadar kegiatan menyampaikan ajaran.

Ia adalah tindakan sosial yang melibatkan hubungan antara penyampai pesan, isi pesan, dan pendengarnya dalam konteks sosial tertentu.

Setiap bentuk dakwah membawa konsekuensi terhadap cara masyarakat memahami agama, serta ikut mereproduksi pola relasi kekuasaan di dalamnya.

Ketika dakwah dikemas sebagai arena perbandingan agama yang bersifat kompetitif, relasi tersebut cenderung digunakan bukan untuk membangun pemahaman bersama, melainkan untuk mengukuhkan satu tafsir sebagai yang paling benar.

Model dakwah yang berbasis konfrontasi logis kerap menyederhanakan kompleksitas keyakinan dan mengabaikan sejarah lahirnya agama-agama.

Padahal dalam pendekatan seperti yang dikembangkan oleh Clifford Geertz, agama dipahami sebagai sistem simbol yang memberi makna pada hidup manusia dalam konteks budaya tertentu.

Sementara Émile Durkheim melihat agama sebagai kekuatan yang membentuk solidaritas sosial dan mengikat masyarakat melalui ritus dan nilai bersama.

Kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa agama tidak dapat direduksi menjadi tumpukan dalil atau proposisi rasional belaka, karena ia tumbuh dalam jaringan makna yang hidup, berlapis, dan menyatu dengan pengalaman sosial umat manusia.

Dalam pendekatan seperti yang dikembangkan Zakir Naik, agama diperlakukan seperti sistem logika formal yang dapat diuji dan dipertandingkan.

Ayat-ayat kitab suci disusun menjadi argumen deduktif yang bertujuan menunjukkan keunggulan satu sistem keimanan atas yang lain.

Pola ini mengabaikan keragaman tafsir, konteks historis, dan kenyataan hidup umat beragama. Alih-alih menjadi jembatan pengertian, dakwah berubah menjadi alat afirmasi internal yang hanya menguatkan posisi ideologis yang sudah dimiliki sejak awal.

Konsekuensi dari pendekatan semacam ini terlihat dalam cara hubungan dibentuk antara penceramah dan pendengar.

Format debat publik sering menempatkan penceramah sebagai figur tunggal yang memiliki otoritas penuh, sementara audiens hanya berperan sebagai penerima yang pasif.

Ini menciptakan pola komunikasi satu arah yang menutup ruang pertukaran pengalaman dan refleksi kolektif.

Dalam masyarakat yang majemuk, pola ini justru memperkuat sekat-sekat simbolik dan menyulitkan terbangunnya dialog yang setara.

Lebih jauh lagi, dakwah yang diformulasikan sebagai ajang adu argumentasi logis sering kali mengabaikan sisi batiniah dan eksistensial dari pengalaman beragama.

Dalam banyak tradisi keimanan, keyakinan tidak lahir dari persetujuan terhadap logika, melainkan dari pergulatan batin, relasi sosial, dan kondisi hidup yang konkret.

Ketika dakwah hanya mengejar kemenangan dalam debat, ia kehilangan daya sentuh terhadap kerentanan manusia, yang justru menjadi lahan subur bagi tumbuhnya iman.

Di titik inilah, fungsi dakwah sebagai proses yang membentuk kesadaran etis mengalami penyempitan yang serius.

Jika kita melihat dari perspektif komunikasi sosial, dakwah dalam bentuk debat publik menunjukkan pola komunikasi yang menekankan dominasi pesan, bukan penciptaan makna bersama. Ini adalah bentuk komunikasi persuasif yang tidak membuka ruang untuk musyawarah yang setara.

Dalam kerangka pemikiran Jürgen Habermas, komunikasi seperti ini tidak memenuhi syarat sebagai komunikasi rasional, karena tidak memberikan kesempatan yang adil bagi semua pihak untuk berpartisipasi dalam proses membangun pengertian kolektif.

Kritik terhadap model dakwah perbandingan agama bukan berarti menolak penjelasan atas keimanan, melainkan mengajukan keberatan atas cara yang digunakan dalam membingkai narasi keunggulan.

Ketika dakwah dibingkai dalam kerangka kompetisi pengetahuan yang tertutup, ia kehilangan kemampuannya untuk menjembatani perbedaan dan membuka ruang percakapan lintas batas.

Padahal dalam konteks masyarakat yang semakin plural, terpolarisasi, dan terdigitalisasi, kebutuhan akan model dakwah yang mampu menghadirkan empati, refleksi, dan keterbukaan menjadi semakin mendesak.

Dakwah yang ingin menjawab tantangan zaman perlu melampaui logika argumentasi yang tertutup.

Ia harus hadir sebagai proses sosial yang menumbuhkan kesadaran bersama, bukan sekadar pertunjukan wacana yang menegaskan batas antara yang dianggap benar dan salah.

Dalam semangat itu, ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi agama dan komunikasi lintas budaya bisa menjadi sahabat penting dalam menyusun pendekatan dakwah yang lebih membumi, lebih manusiawi, dan lebih sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat hari ini.

Ada banyak orang yang tidak menghafal dalil tetapi hidupnya jujur dan lembut.

Ada pula yang fasih berbicara tentang iman namun gagal menghadirkan keteduhan dalam perjumpaan sehari-hari.

Di antara keduanya, dakwah menemukan ruangnya sebagai peristiwa yang menyentuh.

Ia tumbuh dari kesediaan untuk mendengar sebelum berbicara, untuk memahami sebelum menjelaskan, dan untuk hadir sepenuh hati di tengah manusia yang sedang mencari arah.

Dalam dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran, dakwah adalah keheningan yang mengajak manusia kembali ke sumber air jernih.

Sebab di sanalah setiap pencarian bermula, dan hanya yang merendah yang sanggup menampungnya. (*)

No tags for this post.

0 Votes: 0 Upvotes, 0 Downvotes (0 Points)

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Join Us
  • Facebook38.5K
  • X Network32.1K
  • Behance56.2K
  • Instagram18.9K

Advertisement

Loading Next Post...
Follow
Sign In/Sign Up Sidebar Search Trending
Popular Now
Loading

Signing-in 3 seconds...

Signing-up 3 seconds...